Friday, May 8, 2015

Cerita Tentang Gunung Dan Laut

Image source from: http://bit.ly/1EfQGK5


Buatmu, laut hamparan kebebasan. Ombak bergejolak tanpa pernah takut untuk terbentur. Pasang surut bergantian tanpa pernah berselisih. Dan karang, penjaga yang tangguh, meski ombak atau kapal-kapal yang karam itu membenturnya.

Kamu selalu bilang, pantai adalah rumah kebahagian. Tempat tawa pecah bersama ombak. Tempat cerita suka cita berkumpul bersama butiran pasir. Tempat letih tenggelam dengan indah di ujung cakrawala bersama jingga senja. Dan laut luas tanpa sekat sebagai atap kebahagiaan.

Kamu memang bagian dari laut. Kamu adalah air yang tak pernah tenang. Selalu bergerak mencari cerita, tanpa ingin dibatasi oleh elemen lain. Kamu adalah kedalaman laut yang penuh kisah tentang hidup yang tak pernah tertidur. Kamu adalah cerminan cakrawala, terbentang tak berujung. Meski terkadang orang bilang pantai adalah ujung, tapi buatmu pantai layaknya tempat singgah. Tempat di mana kebahagian berkumpul.

***

“Jani, kenapa kamu nggak suka pantai?”

Usai bertanya, Banyu tersenyum. Ku amati laki-laki yang duduk di hadapanku. Cahaya lampu kekuningan tak menyamarkan binar mata sayu berwarna coklat itu. Aku suka bibir penuhnya dan raut wajah cerianya saat sedang bercerita, terlebih tentang pantai. 

Kubalas senyum Banyu. “Bukan tidak suka, mungkin tidak terlalu tertarik. Tapi bukan berarti aku nggak mau ke pantai.”

“Loh, kenapa?” kening Banyu berkerut, membuat alis tipisnya itu hampir menyatu.

Tawa di wajahku kusembunyikan dengan kerlingan mata. “Loh! kenapa kamu masih terus bertanya pertanyaan yang pasti tak aku jawab.” Aku tersenyum. "Kalau aku bertanya apa alasanmu nggak mau ke gunung, emangnya kamu bisa jawab? Hahaha.."

“Hanya penasaran, kenapa gadis pengagum langit justru nggak tertarik dengan pantai.”

“Apa bedanya langit di pantai, di perkotaan, di persawahan, di gunung, di mana pun lah?”

“Beda! Langit di pantai jauh lebih ramah dibandingkan dengan di perkotaan atau gunung. Bukannya kamu menyukai langit tanpa sekat?”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa tertawa? Bukankah kamu pernah bilang padaku kalau langit di tol Nusa Dua Bali begitu indah? Sekalipun ruas-ruas jalan tol yang menjadi pembatas, tak menghalangimu untuk bertatapan dengan langit bukan? Bukankah kau juga bilang bahwa disitu kamu menemukan kebahagiaan tanpa pembatas?”

Banyu memborongku dengan berbagai macam pertanyaan retorisnya. Dan kali ini aku pun harus mengiyakannya dengan tersenyum.

“Coba langit di perkotaan atau gunung atau sawah-sawah itu, bukankah itu memberi jarak kepada tanah bukan?” dengan santai Banyu tersenyum. "Atau mungkin tiang dan kabel listrik yang memberimu jarak?" kali ini dia tertawa.

“Oke, aku setuju dengan pendapat kamu. Tapi sekarang, point nya apa Banyu?”

“Point nya, kenapa pantai nggak bisa mengalahkan rasa cintamu terhadap gunung?”

***

Aku adalah kunang-kunang yang mencintai langit. Hanya kepada langit malam lah aku bisa membuka diri. Malam membantuku menemukan kebahagian, lewat sisa cahaya di tubuhku. Malam membantuku melihat gelap dari sisi yang berbeda. Sampai akhirnya aku mengerti malam lebih tabah dari siang. Ia ditinggalkan dan diabaikan oleh sebagian orang yang terlelap dalam mimpi. Tapi, ia tidak pernah lelah menaungi mereka dengan kenyamanan sunyi. Meninabobokan mereka dengan udara yang lebih sejuk. Dan langit, mungkin bukan sekedar pengagum, tapi langit bagaikan sebuah bagian cerita yang tidak pernah berujung, dengan awan sebagai visual effect yang membuatku merasa sempurna menemukan kebahagiaan disana. Disana, tempat aku bercerita.

Dan kunang-kunang, bukan kah mereka hanya bisa kalian temukan di gunung dan pohon juga semak belukar yang menjadi tempat sembunyi yang paling nyaman di siang hari?

Ya! Bagiku gunung, tempat bersembunyi paling baik. Di gunung aku bisa bersembunyi tanpa perlu hilang ditelannya. Berbeda dengan pantai, dimana aku bisa bersembunyi tanpa harus hilang dan tenggelam? Bagiku gunung teman paling baik untuk berbagi misteri kehidupan. Lewat pohon-pohon yang berdiri kokoh aku mengenal cara untuk bertahan saat panas, hujan atau angin menghempas. Lewat kicauan burung-burung yang tak terlihat, aku menemukan cara untuk berbicara dari tulisan. 

Lewat setapak-setapak yang menanjak, aku belajar berjuang untuk kebahagiaan.

***

Tapi, setahun terakhir ini, Banyu hadir dan mengajakku menjelajahi pantai pada cerita-ceritanya yang menggugah semangat.

"Kamu tahu Jani, tidak ada tempat yang lebih baik dari pantai! Dari laut! Dimana kamu bisa dengan bebasnya bermain-main dengan air tanpa perlu takut terlalu banyak menghabiskannya hahaha..."

Dengan selera humornya, Banyu menjelma sosok yang sangat hangat. Hidupnya penuh dengan gairah, tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Karena katanya…

“Untuk apa khawatir? Yang absurd itu bukan tawa Jani…. tapi rasa khawatir itu lah hal yang paling absurd.” Lalu ia tertawa renyah, menertawakan segelintir kalimat yang semalam aku tulis di pembukaan cerita.

Kubuat tawa seenggan mungkin untuk menggodanya saat menanggapi ucapannya.

“Aku besok mau pergi ke pantai, kamu mau ikut?”

Itu sudah ajakan yang kesekian kali dari Banyu. Tapi, lagi-lagi hanya ku jawab dengan gelengan kepala.

“Oh iya, kamu kan anak gunung. Aku lupa. Eh…., salah. Kamu anak ayah ibumu yang mencintai gunung….” kali ini ia terbahak-bahak, dan aku pun ikut tertawa. Kali ini tanpa pura-pura terpaksa.

“Nih….” Kuserahkan sebuah totebag yang di dalamnya terdapat sebuah kotak yang terbungkus dengan rapi dengan kertas kado berwarna biru laut. “Selamat ulang tahun Banyu. Aku tau ini kecepetan,  ulang tahun kamu masih..beberapa hari lagi! But this is your month! Haha. Oh iya, buka kadonya di rumah aja ya!” aku tersenyum, menghilangkan sedikit gemetar di tanganku.

“Wah! Jan, ini apa? Kok lumayan berat gini. Bukan emas batangan kan? Atau, ini bukan bom kan? Bukan uang yang banyak dari hasil korupsi kan?”

"Menurut nganaa??" ujarku dengan raut muka mencibir yang dibuat-buat.

Hahahaha…. kita kembali tenggelam dalam tawa. Sore yang indah.

***

Sebelum benar-benar kurapikan kertas kado dan memasukkannya ke dalam totebag, aku menulis sebuah tulisan pada kertas persegi empat kecil berwarna krem, aku baca kembali.

Dear Banyu,

Bagaimana dengan pertambahan usiamu? Pastinya menyenangkan bukan, sudah 607 hari yang kamu isi dengan banyak tawa. Karena itu, doaku hanya satu semoga bahagia dan tawa selalu menyertaimu. Maaf kalau aku sering mengeluh atau berpura-pura merajuk agar diperhatikan.
Mulai hari ini, mungkin aku tidak selalu ada di sisimu - tapi tahukah kamu bahwa sekalipun kamu tak melihat bintang, ia selalu ada di atas sana untuk menanti waktu yang tepat untuk bersinar? Semoga kamu menyukai kado nya ya..
Terimakasih Banyu, karena selalu ada.

Dari Gadis Pengagum Langit Tanpa Sekat yang Mencintai Gunung, juga kamu.
***
Kutarik napas berat dan panjang…

"Jani, kamu udah siap? Sebentar lagi pesawat take off." Alen menggenggam tanganku.

Aku beranjak dari seat ku, terhitung sudah satu bulan semenjak kepergian Banyu yang tanpa kabar. Dadaku masih sesak, mataku masih sembab bekas kemarin. Bangkit berdiri, perlahan aku merasa pandanganku kabur dan gelap. Kehilangan keseimbangan, sayup-sayup kudengar suara Alen yang berteriak panik.

***
Selamat ulang tahun. H-7.

3 comments:

  1. Deepers in love, in love~ Np: Ryan O' Shaugnessy - No Name.

    ReplyDelete
  2. ini cerita yang sangat menarik sekali, dan saya benar benar menyukai nyaa :_


    http://www.maxisbola.com/NewIndex.aspx

    ReplyDelete

Write a comment